Sabtu, 31 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 26 "3 Tahun Bersama"

“3 Tahun Bersama”

Tahun 2012, Saat aku diterima di salah satu Universitas yang membuatku harus jauh dari kampung halaman dan keluargaku. Kebetulan aku diterima dengan sahabatku, dan kami putuskan untuk tinggal bersama dalam satu kost. Dinda namanya, dia adalah sahabatku. Di tahun pertama kuliah, kami lewatkan suka duka bersama. Belajar jauh dari keluarga, dan menangani masalah apapun bersama. Saat itu, aku dengannya belum terbiasa dengan suasana dingin hingga salah satu dari kami pun sakit. Ketika aku yang pertama sakit, dinda merawatku sampai aku sembuh dinda mulai menunjukan gejala bahwa dia akan sakit. Ternyata benar dugaanku, sakitnya bergantian denganku. Seperti anak kembar saja, wajar memang karena kita tinggal dalam satu kamar kost. Kejadian  yang ku ingat saat di tahun pertama, saat itu aku tak sengaja mematikan lampu kamar kemudian dinda secara tidak berteriak dari kamar mandi. Rupanya dia merasa  ketakutan sendiri dalam keadaan  gelap. Saat itu aku tertawa melihat ekspresinya yang begitu ketakutan.

Singkat cerita ditahun ke dua, aku dengan dinda masih berada dalam satu kamar kost yang sama. Saat itu kami mulai disibukkan dengan kesibukan masing-masing hingga waktu bersama mulai kurang. Kami jarang bermain bersama lagi, namun kami selalu bercerita dia waktu luang sebelum tidur.  Namun ada satu kejadian yang tak bisa ku lupa, ketika dia akan berangkat ke Jepang. Saat itu dia terpilih sebagai salah satu Mahasiwa yang mewakili jurusannya  untuk menari disana. Bangga sekaligus sedih karena akan di tinggal satu minggu olehnya. Aku membantu segala persiapannya dan mengantakannya ke kampus. Hingga dia pulang pun, aku menjemputnya di kampus. Sampai akhirnya di tahun ke tiga, kegiatan di kampus  mulai kami kurangi. Banyak waktu luang yang kami habiskan lagi bersama. tak jarang kami terlihat seperti adik kakak karena kami selalu melindungi satu sama lain. Saat itu tak pernah ada masalah di antara kami, sampai di akhir tahun ketiga ada permasalahan yang dihadapi dinda hingga harus pindah dari kosan. Mulai saat itu, kami tidak dalam satu kamar kost yang sama, namun kami selalu bertemu dan meluangkan waktu bersama sekedar untuk mencurahkan tentang hal apapun itu. 

30DWC Jilid 3 ke 25 "Hal yang dapat dilakukan dalam Persahabatan"

“7 Hal yang dapat dilakukan dalam Persahabatan”

Kata psikologi persahabatan yang telah terjalin selama kurang lebih 7 tahun, persahabatan itu akan terjalin sampai tua dan akan abadi. Aku setuju dengan hal itu karena aku memiliki persahabatan yang telah terjalin selama kurang lebih 9 tahun yang di mulai semenjak kami bertemu di awal kelas  7  SMP. Menurut ku ada 7 hal yang harus di jaga dalam persahabatan, hal itu di antaranya:

   1. Perlu kamu ketahui karakteristik sahabatmu satu persatu seperti apa
   Butuh waktu memang untuk memahami setiap katakteristik sahabatku. Namun cobalah ketika kamu     bersamanya, dengarkan apa yang di curhatkan kepadamu dan pamailah ketika  dia sedang marah           padamu atau kepada sahabatmu yang lain. Kamu akan tau dia orang seperti apa.
    2. Tak ada salahnya kalian luangkan waktu
Ketika masih berada di bangku sekolah, mungkin kalian akan banyak waktu berkumpul bersama sahabat. Entah itu setelah  pulang sekolah ataupun di hari weekend untuk sekedar berkumpul bersama atau hangout bersama. Itu tak ada salahnya karena dengan meluangkan waktu untuk berkumpul bersama bisa menjaga persahabatan kalian.
3. Saling berkomunikasi
Terkadang di antaranya sahabat kita  ada yang selalu sibuk bahkan sampai tidak sempat untuk saling berkomunikasi. Namun cobalah untuk memulai komunikasi jika kita sedang  memiliki waktu untuk berkomunikasi. Waktu berkomunikasi tidak harus lama sekedar bertukar cerita atau bahkan saling berkabar, hal itu bisa menjaga  persahabatan kalian.
4. Membuat Grup di Media Sosial
Hal yang sederhana namun kesederhana itu dapat menjadi salah satu penghibur dikala kita sedang merasa lelah dan kesepian. Menghubungi mereka lewat grup di salah satu media merupakan cara penghilang rasa  lelah dan sepi. Mereka bisa saja saling menghibur dan memberi semangat satu sama lain.
5. Memperkenalkan kepada keluarga
Mengenal keluarga sahabat kita sendiri itu salah satu hal yang perlu kita lakukan untuk menjaga sebuah persahabatan. Keluarga bisa menilai sahabat kita sendiri, apakah dia adalah teman yang baik untuk kita. Bahkan dari persahabatan itu bisa menjadi keluarga untuk kita.
6. Mengenal Pasangan Hidupnya
Sahabat kita pasti memiliki pasangan hidup masing-masing. Mengenal pasangan hidupnya hal itu bisa membuat kita menjalin silaturahmi lebih banyak dengan orang-orang yang di kenal oleh sahabat kita.
7. Liburan bersama

Terkadang menjalani aktifitas yang cukup padat dan menyita waktu membuat kita ingin merasakan liburan bersama keluarga atau sahabat. Namun pilihlah waktu untuk bisa berlibur bersama sahabat agar kebersamaan bersama sahabat bisa terasa seperti saat dulu masih berada di bangku sekolah. 

30DWC Jilid 3 ke 24 "Rindu dan Penantian"

“Rindu dan Penantian”

Aku termenung dalam malam yang sunyi
Saat aku rasakan angin malam yang dingin
Aku terbayang akan hadirnya dirimu
Untuk menemaniku disaat ini

Namun aku tahu dirimu kini berada jauh disana
Dan aku disini selalu menunggu
Karena kau pernah bilang “Aku pasti kembali”
Dan aku simpan kata itu dalam hati dan pikiranku

Dalam hati kurasakan rasa rindu
Dalam angan kunanti dirimu
Rindu itu menyiksaku
Dan penantian itu membuatku jenuh

Saat aku sendiri, aku terbayang akan dirimu
Saat kau tersenyum,tertawa, dan saat membuatku kesal
Namun aku tersadar, kau belum kembali
Dan aku disini setia menunggumu untuk kembali


30DWC Jilid 3 ke 23 "Di Akhir Pergantian Tahun"

“Di Akhir Pergantian Tahun”

Seperti tahun lalu, rintik hujan kembali turun di akhir pergantian tahun. Akhir tahun ini, aku habiskan di tempat perantaun kembali. Sore itu, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Bibi dan Pamanku karena di tempat kostku semua penghuni menghabiskan pergantian tahun di kampung halamannya masing-masing. Dalam perjalanan menuju rumah Bibiku, perlahan rintikan hujan mulai turun dan tak lama kemudian hujan secara perlahan menjadi deras sampai bajuku pun sebagian menjadi basah. Di sepanjang jalan ku lihat jalanan masih terasa sepi, belum terlihat tanda-tanda kemacetan dan sampailah aku di rumah bibiku. Ku buka pintu gerbang dan perlahan aku masuk ke dalam rumah. Bibi menyambutku dengan lembut, namun keadaan rumah masih terlihat sepi karena  orang-orang belum pada pulang.

Singkat cerita, saat itu menunjukan pukul 19.00. Mulai terdengar suara kembang api di sekeliling rumah, namun perasaanku saat itu sungguh tak karuan karena belum bisa berkumpul dengan keluarga di rumah. Keadaan masih saja sepi karena aku dan bibiku tidak pergi keluar untuk merayakan tahun baru. Ku pikir berisitirahat di kamar sudah cukup ditemani dengan tontonan drama yang sudah lama belum aku tonton. Waktu menunjukan 21.00, ku putuskan pergi ke kamar setelah aku bersama bibi banyak bercerita.  Ku nyalakan laptop dan menonton satu episode drama, namun drama itu tak sempat aku tonton sampai akhir karena aku terlelap tidur. Tak lama setelah aku terlelap tidur, seketika aku terbangun mendengar bergemuruh suara kembang api. Saat aku bangun ternyata waktu menunjukkan pukul 23.45. Aku pun pergi ke lantai 2 untuk melihat kemeriahan kembang api, sungguh indah gemerlap kembang api saat itu. Tepat pukul  00.15, aku pun kembali tidur  dan hanya sebentar menikmati pergantian tahun baru dengan melihat keindahan kembang api dari berbagai sudut kota.   

30DWC Jilid 2 ke 22 "Hari Sidangku"

HARI SIDANGKU

28 Désémber 2016,, Pagi itu, aku bangun pagi sekali.. Bersiap untuk menghadapi hari yg penuh dengan perjuangan.  Ku beres kan tempat tidur dn bergegas mandy.  Tak lupa sebelum berangkat,  ku isi perutku agar ku dapatkan energi untuk hari ini.  Pukul 06. 30, bergegas ku langkah kan kaki keluar dari kosan.  Perasaan ku sungguh tak karuan karena akan melaksanakan ujian sidang.  Bersama temanku Rina, kami berjalan melewati beberapa fakultas untuk sampai di gedung tempatku ujian.  Tak lama, aku pun sampai di depan ruang sidang.  
Singkat cerita, tepat pukul 08.00 sidang pun dimulai. Satu persatu teman-temanku mulai masuk dan sejam kemudian pun keluar dengan wajah penuh kecemasan. Saat itu giliranku masuk, ku rasakan tegangnya dalam ruangan menghadapi Dosen penguji. Namun ku hadapi saja semua itu, akhirnya sejam kemudian aku pun keluar ruangan. Seketika itu pun air mataku pecah karena telah melaksanakan sidang dengan lancar. Kemudian temanku satu persatu kembali memasuki ruangan  dan yang lainnya menunggu giliran di panggil.  Sidang pun selesai tepat pukul 14.00, sejam selanjutnya aku dan yang lainnya menunggu pengumuman yudisium. Perasaanku yang tak karuan menunggu pengumuman membuatku tak bisa diam berjalan kesana kemari. Namun sebelum hasil diumumkan, aku pun beranjak untuk menunaikan solat. Sesaat setelah, aku dan yang lainnya pun di kumpulkan dalam satu ruangan untuk diberikan hasil. Saat itu, aku ingat sekali tepat pukul 16.30 surat pengumuman kelulusan dibagikan. Satu persatu surat itu dibagikan, dan setelah semua mendapatkan surat itu kemudian perlahan surat itu di buka. Terharu dan bahagia, itulah perasaanku saat itu. Aku dan yang lalinnya menangis bahagia ketika membuka isi surat tersebut dan dinyatakan “Lulus”. Perjuangan yang berbuah manis.


Rabu, 21 Desember 2016

30DWC Jilid 3 Ke 21 "Persahabatan Kami"

“Persahabatan Kami”

Sahabat itu ibarat saudara kandung yang di pertemukan tanpa kesengajaan. Begitu pun aku, aku bertemu dengan mereka ketika aku duduk di bangku SMP. Persahabatanku dengan mereka telah mengukir banyak kenangan sampai saat ini. 3 tahun di bangku SMP, mengawali persahabatanku dengan mereka yang penuh suka dan duka. Awal dimana aku dengan mereka mengenal sifat satu sama lain bahkan selalu ada pertengkaran yang membuat suasana menjadi tak nyaman ketika kami bersama. Hingga di penghujung tahun ke 3 tepatnya saat itu kelas 9 SMP, kami akan meneruskan ke SMA yang berbeda. Sekolah yang baru dan teman yang baru tak dapat menggantikan mereka yang selalu memahami dan membuat keceriaan ketika bersama. Meskipun jarak yang memisahkan kami, namun itu bukan menjadi halangan untuk kami bisa bertemu ketika libur tiba.

Singkat cerita, kami telah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Saat itu pula masing-masing dari kami mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi yang berbeda. Tempat yang berbeda, mungkin itu lebih tepatnya saat nanti kami memasuki dunia perkuliahan. Sedih memang, ketika kami beranjak dewasa pertemuan yang dulu bisa hampir dilakukan setiap hari namun sekarang hanya bisa dilakukan saat ada libur panjang. Semua itu bukan menjadi penghalang lagi bagi kami karena kecanggihan teknologi membuat kami bisa bertegur sapa melalui media sosial. Itulah persahabatan kami yang telah terjalin selama 9 tahun ini. Perbedaan yang menyatukan kami, namun perbedaan itu yang membuat kami saling melengkapi satu sama lain.  

Selasa, 20 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 20 "Perjalananku"

“Perjalananku”

Pagi itu, saatnya aku kembali ke perantauan untuk menyelesaikan kewajiban dan tanggung jawabku. Kembali beraktifitas dengan kesibukan kampus. Jarak yang ku tempuh tentunya bukan waktu yang sebentar, membutuhkan waktu sampai 1 hari untuk sampai di temapt tujuan. Tetapi bagiku, hal itu sudah terbiasa. Banyak yang ku temukan di perjalanan. Perjalananku dimulai dari Pool Budiman dekat tempat tinggalku. Saat itu waktu menunjukan 06.30, bus pun mulai melaju meskipun sebenarnya berat untukku meninggalkan kampung halaman.

Penumpang yang awalnya tak terlalu banyak, hingga setengah perjalanan hampir semua kursi di bus telah terisi oleh penumpang. Saat itu ku lihat pemandangan dari depan kaca, hamparan sawah yang luas, dan pepohonan yang rindang di sepanjang jalan membuatku terbawa suasana untuk melamun. Tak hanya itu, pengamen jalanan dan pedagang yang masuk silih berganti ke dalam bus memberikan cerita dalam perjalananku. Suasana yang hening saat itu membuatku pun tertidur sejenak dengan diiringi alunan musik mellow dan dinginnya Ac mobil membuatku seluruh badanku bergetar kedinginan.  Beberapa jam berlalu, tibalah aku di pemberhentian terakhir bus. Perlahan aku menuruni tangga bus dan di sambut oleh pedagang dan orang yang ingin memberikan bantuan barang kepada kita. Namun hanya aku lemparkan senyuman manis kepada mereka. Setelah itu, aku menaiki angkot menuju kostan. Angkot yang ku tumpangi masih memberikan cerita dalam perjalananku. Pengamen jalanan yang silih berganti membuat para penumpang lainnya terlihat keberatan. Namun aku dengan penumpang lainnya pun silih berganti untuk memberikan sumbangan untuk mereka. Tak terasa waktu menunjukan pukul 15.00, itu artinya sebentar lagi aku akan sampai di tempat persinggahanku. Setengah jam berlalu, barulah aku sampai di tempat kost ku. Sungguh luar bisa perjalananku pulang untuk hari, memberikan cerita berbeda di setiap bus itu berhenti di daerah mana pun.


30DWC Jilid 3 Ke 19 "Semangatku adalah Mereka"

“Semangatku adalah Mereka”

Ayah dan Ibu, dua orang special dalam hidupku. Mereka yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungan yang tiada henti. Mereka yang membuatku percaya akan kemampuan ku. Mereka yang tak bisa aku deksripsikan seperti skripsi yang sedang aku jalani. Ayah dan Ibu, layaknya pelita yang menerangi kehidupanku di saat aku terjatuh. Ibarat cahaya lilin yang selalu setia menerangi dari setiap sudut jalan.

Ibu, perempuan tersabar yang aku temukan di dunia ini. Mengorbankan segala untuk anaknya, dan seketika aku teringat ketika aku berada di perantauan. Saat itu, kondisi tubuhku sedang tidak baik. Alhasil aku pun menangis pada Ibu karena beralasan merindukannya. Mungkin naluri ibu  memang kuat sehingga aku tak bisa menutupi kalau kenyataannya aku sakit. Setelah mendengar kabarku sakit, Ibu langsung menemui saat itu. Terharu, padahal jarak tempuh dari rumah ke tempat perantauanku membutuhkan waktu 1 hari. Namun pengorbanan sungguh luar biasa.

Ayah, laki-laki terhebat yang aku temukan di dunia ini. Selalu membuat anaknya untuk tangguh dalam menghadapi segala tantangan hidup. Seketika aku pun teringat saat Ayah yang selalu bersikap tegas saat mendidik ku. Saat aku kecil menginjak remaja hingga dewasa, Ayah selalu menjagaku dengan kedisiplinannya. Ketika aku akan menyerah dengan permasalahan yang ku hadapi, dia selalu memberikan berbagai cara untuk bisa menghiburku dan membuatku untuk tegar. Sungguh luar biasa, setiap kata yang terucap olehnya membuatku bisa bangkit dari segala keterpurukan.


Minggu, 18 Desember 2016

30DWC Jilid 3 Ke 18 "Bertemu"

“BERTEMU”

Mei 2016. Kala itu aku mengantarkan dia pergi ke Bandara, Dia diterima kerja di Luar Pulau Jawa. Saat itu perasaanku sudah tidak karuan, bahagia & sedih bercampur menjadi satu ketika harus melepasnya jauh. Beberapa hari berlalu, aku dengannya sudah terpisah oleh jarak ribuan kilometer. Selain terpisah oleh jarak, aku dengannya tidak berkomunikasi hampir tiga minggu lamanya karena dia sedang melaksanakan pendidikan di pekerjaannya. Satu bulan berlalu, aku dengannya disibukkan dengan segala aktivitas masing-masing. Kesibukan aku dengan dia membuat komunikasi sedikit berkurang.  Dua bulan berlalu, dia semakin sibuk dengan pekerjaannya dan aku sibuk dengan tugas akhir di perkuliahan ku. Tepat tiga bulan berlalu, aku pikir dia akan pulang saat Lebaran tiba. Namun kenyataannya dia harus merschedule untuk pulang ke rumah karena pekerjaannya.

Sejak keberangkatannya bulan Mei, aku dan dia tak pernah bertemu. Aku dengannya hanya bisa bertegur sapa via telephone atau pun video call. Seiring berjalannya waktu dan kesibukan semakin menghampiri dirinya, waktu yang tersisa untukku begitu singkat sampai aku pun merasakan kehilangan sosok dirinya. Sempat aku merasa kesal, namun ku pikir itu hanya keegoisanku semata. Hingga tepat tujuh bulan berlalu, aku mendengar kabar darinya. Kabar yang membuatku terharu sekaligus bahagia karena dia akan pulang untuk bertemu denganku juga keluarganya.


Desember 2016. Setelah tujuh bulan berlalu, akhirnya aku dengan dia bertemu. “Bertemu” , sungguh seperti mimpi rasanya bisa bertemu kembali dengannya setelah sekian lama aku dengan dia tak pernah berjumpa. Saat itu, aku bertemu dengannya hanya bisa menghabiskan waktu beberapa jama karena dia harus segera pulang ke rumahnya. Meskipun pertemuan itu cukup singkat, namun bagiku pertemuan itu memberikan kesan yang tidak bisa tergantikan. 

Sabtu, 17 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 17 "Ini Bukan Kegagalan"

"Ini Bukan Kegagalan Tapi Kesempatan"

Tahun 2012, kala itu aku telah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Aku putuskan untuk mengikuti seleksi ke Perguruan Tinggi lewat jalur SBMPTN Tulis karena kenyataannya saat itu aku tak masuk dalam daftar list untuk mengikuti SNMPTN Undangan. Mungkin saat itu kesempatan ku belum ada di sana. Persiapan terus ku lakukan, mengikuti les setiap hari agar masuk ke Perguruan Tinggi yang diinginkan. Aku ingat sekali, bulan Juni dimana waktu itu  aku berangkat ke Bandung untuk mengikuti tes  tersebut. Hari itu pun tiba, aku melaksanakan tes selama 2 hari. Aku mengisi semampu ku dan akhirnya aku mengerjakannya hingga selesai. Pikiranku sungguh tak tenang waktu itu karena melihat orang-orang di sekelilingku sepertinya orang hebat semua. Tetapi sudahlah, aku coba untuk menguatkan diri dan percaya pada kemampuanku.

Sebulan berlalu, tepatnya bulan Juli. Hasil seleksi pun diumumkan, saat itu kebetulan aku sedang berada di rumah Alm. Nenenku karena Ibuku sedang melaksanakan tugas di luar kota. Malam itu, aku coba membuka alamat web untuk membuka hasil seleksinya. Setelah ku buka, aku masukan nomor pendaftaran  dan pin ku. Beberapa detik kemudian muncul hasil pengumuman “Maaf Anda Dinyatakan Tidak Lolos”. Saat itu hatiku benar-benar hancur, rasanya ingin menangis sekencang-kencanngnya. Aku dinyatakan tidak lolos seleksi di Jurusan dan Perguruan Tinggi  yang aku inginkan. Aku diam saja, namun ternyata Nenek melihatku menangis dan mencoba menenangkanku dan memberiku semangat kembali untuk tidak menyerah sampai disitu.


Dua minggu berlalu, saat itu masih dibuka pendaftaran di Perguruan Tinggi yang aku inginkan lewat jalur Seleksi Mandiri. Aku memberi tahu kedua orang tua dan meminta izin kepada mereka untuk mendaftar lagi, untunglah mereka mengizinkanku. Entahlah rasanya saat  itu seperti apa, yang jelas aku seperti menggebu-gebu  ingin memasuki Perguruan Tinggi itu. Aku pun mencoba mendaftar lagi dengan mengambil Jurusan yang berbeda dari yang pertama. Aku berpikir barangkali saja untuk kali ini aku bisa diterima. Dua minggu kembali berlalu, hasil pengumuman sudah dapat dilihat. Saat itu perasaanku kembali camur aduk, Kakak ku mencoba membuka alamat web Perguruan Tinggi tersebut untuk mengecek nomor pendaftaranku. Beberapa detik berlalu dan hasil pengumuman pun muncul “Selamat, Anda Dinyatakan Lolos”. Seketika aku kegirangan dan mengucap syukur Alhamdulillah tiada henti. Saat itu pula, aku menyadari bahwa setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya kegagalan. Kegagalan itu bukan jadi pembunuh semangat kita,  tetapi kegagalan itu awal kita menuju kesuksesan dengan usaha  dan kerja keras. 

Jumat, 16 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 16 "Hanya Waktu"

“Hanya Waktu”

Waktu terlalu lambat bagi orang yang menunggu
Waktu terlalu cepat bagi orang yang takut,
Waktu terlalu lama bagi orang yang berduka
Namun waktu hanya sebentar bagi orang yang mencinta

            Waktu yang tidak dapat diukur
            Diukur dengan berjalannya tahun,
            Tetapi hanya dapat diukur dengan apa yang ia lakukan
            Hanya dapat diukur dengan apa yang ia rasakan dan ia taih

                    Jangan biarkan waktu untuk menipumu                    
                    Karena waktu tidak dapat menaklukanmu
                    Kau tidak akan pernah menemukan waktu untuk segala sesuatu
                    Namun jika kau menginginkannya, ciptakanlah waktumu
                       



Kamis, 15 Desember 2016

30DWC Jilid 3 Ke 15 "Graduation"

"Graduation"
     Hari ini, 14 Désémber 2016. "Happy Graduation teman-temanku." ucapan selamat yang tak henti aku berikan kepada teman-teman yang telah menyelesaikan pendidikan nya. Pagi itu, kamarku menjadi tempat untuk teman-teman ku yang akan di rias. Senang bercampur haru, ketika melihat raut wajah bahagia mereka. Melihat mereka yang cantik nan anggun memakai kebawa dan Toga wisuda.  Sejenak aku terdiam karena aku belum bisa seperti mereka.  Tapi di balik itu semua aku percaya, semua akan ada waktunya.  Saat itu,  ku putuskan untuk tidur kembali karena waktu masih menunjukan pukul 04.00 dan terlalu pagi jika ku mandi.
  

    Beberapa jam kemudian, waktu menunjukan pukul 07.30. Aku beranjak mandi dan ku siapkan baju untuk ku kenakan ke acara wisuda teman-temanku. Seketika perasaan sedih menghampiri, tapi saat itu pula ku buang jauh-jauh rasa itu.  Waktu terus berlalu, aku pun bergegas untuk menemui mereka satu persatu. Acaranya begitu meriah, sambutan dari berbagai fakultas mengiringi kedatangan para wisudawan. Membuat wajahku berkaca-kaca membayangkan ketika waktunya tiba, aku akan di sambut seperti mereka. Tak lama, satu persatu temanku terlihat dan aku pun mulai menghampiri mereka. Kuberikan bunga mawar yang dihiasi oleh rangkaian bunga yang lain. Sungguh suasana haru dan bahagia ketika melihat mereka.  Membuatku terpicu untuk segera menyelesaikan tugas akhirku dan bisa secepatnya menyusul mereka. Happy Graduation.

Rabu, 14 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 14 "Semua Itu Proses"

“Semua Itu Proses”

      Semangat baru. Mungkin itu yang aku rasakan di pagi yang cerah ini. segala rasa gundah gulana yang sempat menghampiriku saat itu sekarang seolah lenyap begitu saja seperti tertumpuk oleh tumpuan batu. Pagi ini, ku lihat awan putih menghiasi langit biru dan itu menandakan hari ini cerah. Ku rasakan udara pagi dari jendela kamarku, sejenak ku pejamkan mata. Ku dengarkan burung-burung berkicau, semeliwir angin pagi yang begitu sejuk. Nikmat Tuhan sungguh tiada tergantikan untuk pagi ini. Tak lama langsung ku buka mataku ketika ku dengar suara pintu kamarku terketuk entah oleh siapa. Ternyata sahabatku, maklum kamar kita memang bersebelahan karena berada dalam satu kost yang sama. Masuklah dia ke kamarku, dan merebahkan badannya di kasurku. Kupikir dia mungkin sedang memikirkan sesuatu hingga ia putuskan pergi menemuiku di kamar. Ternyata benar saja, tak lama kemudian dia menangis. Dia ceitakan permasalahannya padaku. Sambil meneteskan air mata dia bercerita tentang Skripsinya. Kegalauan yang dirasakan oleh Tingkat Akhir dan yang ku alami pula saat ini. Kesedihannya dalam menghadapi skripsi sungguh membuatku merasakan apa yang dia rasakan. Berjuang bersama teman adalah satu-satunya cara untuk mengatasi kesedihan itu. Saat itu ku coba memberikannya semangat, karena apa yang dia alami sekarang setidaknya dulu aku pernah mengalaminya.

    Hari terus berganti, tak terasa satu minggu berlalu. Kemurungan dari sahabatku masih terpancar jelas. Entahlah memang terkadang skripsi membuat kita tidak ingin melakukan aktifitas apapun selain mengerjakannya. Aku mencoba membuat semangatnya bangkit, aku ajak dia jalan-jalan ke tempat dengan suasana adem. Di hari berikutnya aku kembali mengajaknya untuk pergi ke tempat-tempat yang memberikan ketenangan dalam hati dan pikirannya. Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, kulihat kembali senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya. Hal itu karena dia merenungkan kembali dalam dirinya untuk melewati setiap proses dalam kehidupannya. Tak lupa, lebih banyak bersyukur adalah kunci utama menurutnya. Aku pun bahagia, senyum bahagia dari sahabatku telah kembali. 

Senin, 12 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 13 “Cerita Pagi”

“Cerita Pagi”


Pagi ku yang cerah, mentari pagi kembali menerangi. Kembali ku lawan rasa malasku untuk melakukan aktifitas. Pagi itu, aku pergi ke kampus untuk bimbingan. Langkahku terhenti, ketika aku melihat anak kecil yang sedang berjualan makanan dan tissue. Seketika itu pula, perasaan ku langsung terenyuh melihat perjuangan dia untuk menjalani hidup dengan berjualan tanpa memikirkan pendidikan. Aku masih terdiam, namun aku putuskan untuk membeli makanan yang dia bawa. Bukan hanya membeli makanannya, aku bahkan sempat mengajaknya untuk mengobrol. Namanya Dodi, usianya 9 tahun. Miris sekali, ketika aku mendengar alasannya harus berjualan. Keadaan yang memaksanya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Usianya yang masih belia, harus dia habiskan untuk berjualan. Padahal ketika usiaku sama sepertia dia, aku habiskan di sekolah untuk mengenyang pendidikan dan bermain bersama teman-temanku. Sekali lagi, Tuhan memberikanku pelajaran hidup lewat kehidupan Dodi. Tuhan memberikanku nikmat yang begitu luar biasa, masa kecil Dodi saat ini memang tak seberuntung masa kecilku dulu. Namun itulah kehidupan, selalu ada cerita dan hikmah untuk orang lain. 

30DWC Jilid 3 ke 12

“Tidak ada yang Tidak Mungkin”


Masih suasan libur panjang, keramaian diaman-mana hingga kemacetan pun tidak terelakan terjadi dimana-mana. Ku pikirkan sejenak dan tak lama aku pun beranjak dari tempat tidurku untuk menemui tetangga kamarku. Saat itu hujan turun cukup deras hingga membuat perutku tak henti  berkeroncong, mungkin itu salah satu efek kedinginan oleh cuaca hujan. Ku putuskan bersama temanku untuk membeli nasi dan lauk pauknya. Terlihat tidak mewah, namun rasanya patut di coba. Kami beli makanan khas Sunda. Ada ayam goreng plus nasi dan ada sambal plus lalab, dan itulah sajian yang sempurna dan membuatku selalu merindukan kampung halaman. Beberapa menit berlalu setelah kami selesai makan, kami segera bergegas menuju kamar utnuk bercerita. Usut punya usut, temanku itu tidak menyukai sambal sama sekali. Dia seolah ilfeel dengan bau aroma terasinya. Hingga pada saat itu, aku memberinya sambal merah, hampir saja tempat sambal itu jatuh karena sikap temanku yang ingin membuang sambal tersebut. Dari situlah, aku membiasakannya untuk mengajaknya makan ke tempat yang ada sambal dan lalab. Setelah beberapa waktu berlalu, temanku saat itu malah mengajakku untuk makan yang ada sambalnya. Jelas saja aku lihat saat itu, temanku yang dulunya tidak suka memakan sambal dan lalab, pada hari itu pula temanku sudah menyukainya. Satu hal yang terselip dalam benakku, karena tidak selamanya sesuatu hal yang tidak kita sukai akan terus kita tidak kita menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu bisa saja terbalik dan membuat kita menyukainya. 

30DWC Jilid 3 Ke 11

“Skenario Hidup” 
Hari itu tiba, hari dimana aku menyambut suka cita untuk teman-temanku yang sudah menyelesaikan study nya. Saat itu mataku berkaca-kaca, perasaanku tak bisa aku ungkapkan. Hanya terpancar gurat wajah bahagia dan sedih. Aku ucapkan selamat kepada teman-temanku. Setelah itu kami melakukan sesi foto bersama. Sejenak aku terdiam dan melihat suasana di sekelilingku, banyak wajah ceria dan bangga karena telah menyelesaikan study nya. Apalah daya ku yang saat itu belum menyelesaikan study ku. Sungguh membuat perasaanku kalut dan membuatku termotivasi untuk segera bisa seperti mereka. Di hari itu pula, Tuhan kembali memberikanku sebuah pelajaran hidup. Ternyata setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Setiap orang punya jalan cerita masing-masing yang telah diatur oleh Skenario yang sempurna. Hal itu pun terjadi padaku, aku memiliki jalan cerita yang berbeda dengan yang lain. Ketika orang lain telah menyelesaikan studinya namun aku belum. Itu adalah sebagian cerita yang ditulis dalam skenario kehidupan ku. 

Minggu, 11 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 10

Ceritaku bersama Ibu

Akhir pekan tiba, sedih bercampur bahagia berkecamuk dalam hatiku. Akhir pekan ini adalah libur panjang yang di nanti-nanti oleh para pencari tanggal merah, termasuk aku. Namun sekarang bagiku, ada tanggal merah atau tidak rasanya tetap sama. Keadaanku yang sakit membuatku sedikit sulit untuk melakukan aktifitas, akhirnya Ibuku datang untuk menengokku. Senang bercampur haru, setelah beberapa bulan aku tak pulang dan tak berjumpa dengannya.

Sesampainya Ibu di kamar kostku, kami saling bercerita dari hal yang penting sampai hal yang sebetulnya tak perlu kami bahas. Mungkin karena kami terlalu rindu, hingga pembahasan pun bercampur aduk. Namun sejenak, Ibu langsung terfokus pada kondisiku saat itu. Ibu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca sambil bertanya padaku “Sebetulnya kamu kenapa bisa sampai sakit seperti ini?” Sejenak aku pun tertunduk dan tak terasa air mataku pun ikut terjatuh dan membasahi pipiku. Aku hanya bisa terdiam dan berkata “Aku tidak apa-apa, Bu. Aku hanya rindu ingin bertemu Ibu.”

Meskipun sebetulnya Ibu tahu kalau penyakit ku bukan hal yang bisa di anggap remeh. Ibu selalu menyemangati ku dan membuatku tegar untuk menghadapi ini semua. Dikupaslah buah-buahan olehnya dan berkata “Kamu itu harus jadi wanita tegar, Ibu saja sebetulnya memiliki masalah melebihi dirimu kini. Namun tidak pernah menyerah, Ibu hanya menjalani dan berusaha sebaik mungkin untuk membuat masalah itu agar tidak membuat Ibu merasa stress.” Kata yang Ibu lontarkan membuatku terdiam dan membuatku tersadar akan satu hal, Tuhan tidak akan memberikan ujian pada umatnya di luar batas kemampuan umatnya sendiri. Apalagi memberikannya penyakit. Tuhan itu masih sayang sama kita, memberikan ujian dari mana saja dan dari hal apa aja.

Pada akhirnya,. Waktu yang terus beranjak hingga larut, kami pun putuskan untuk beristirahat. Melihat wajah Ibuku seperti sudah kelelahan karena menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke tempat kostku. Sesaat sebelum aku tidur, Ibu masih saja menyemangati ku dan mengatakan kata-kata yang membuat perasaan ku kembali terenyuh, “Ni, Kamu tak sendiri. Kamu punya Tuhan, kamu punya Mamah, Apa, keluarga dan Sahabat kamu yang selalu mendukung mu. Tetap semangat!”. Saat pula ku tahan air mataku dan langsung ku pejamkan mata ini.

 

Jumat, 09 Desember 2016

30DWC Jilid 3 Ke 9


"Sejak Saat Itu"
Sejak saat itu…
Saat dimana kamu pergi
Pergi menuju tempat yang baru
Untuk memulai aktifitas barumu disana
Dan meninggalkanku disini demi kewajibanmu

Sejak saat itu..
Kita terpisah oleh jarak
Jarak dengan ribuan kilometer
Terbatasi oleh waktu
Karena kesibukan kita masing-masing

Sejak saat itu..
Beberapa bulan tak bertatap muka denganmu
Membuatku harus mengakrabi rindu
Membuatku harus bersahabat dengan jarak
Dan membuatku harus berteman dengan sepi

Sejak saat itu..
Aku selalu berharap padamu untuk cepat kembali
Kembali disini untuk menemaniku
Dengan mengakhiri rindu, jarak dan sepi yang sementara

Saat ini, sungguh aku merindukanmu. 

Kamis, 08 Desember 2016

30DWC Jilid 3 Ke 8

“Bukan Saatnya Menyerah”


Waktu yang terkadang seperti menyekatku dalam keputusasaan. Di saat yang bersamaan, muncul berbagai permasalahan hidup yang harus ku selesaikan. Sejenak aku berpikir, semua ini seolah menyudutkanku. Betapa perihnya hidup ini, aku harus berada pada situasi yang tak bisa membuatku untuk terhindar dari semua ini.  Perlahan aku mulai melemah, terjebak ke dalam keputusasaan. Terpikirkan semua yang akan terjadi, tanpa aku harus berusaha terlebih dahulu. Semangat ku mulai sedikit menghilang, aku coba lebih mendekatkan diri pada-Nya. Ingin ku adukan semua keluh kesah ini pada-Nya. Suatu ketika, Aku berada titik dimana aku seolah tak bisa bangkit, kesehatan ku mulai menurun, pikiranku mulai kacau. Begitu hampir menyerah aku menghadapi semua ini.  Namun perlahan, aku hadapi sedikit demi sedikit permasalahan yang ku hadapi saat ini..  Tak lupa,  do'a selalu ku panjatkan kepada-Nya karena percaya semua masalah yang dihadapi pasti ada solusinya, hanya kita harus menikmati setiap prosesnya.  Percuma untuk mengeluh tanpa aku hadapi ini semua.  Bukan saatnya aku harus menyerah. Percayalah, Tuhan akan ada selalu bersama kita.  Tuhan tak pernah tidur, Tuhan akan selalu mendengar do'a-do'a kita. Tetap berjuang!

Rabu, 07 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 7

“Inilah Kehidupan”
Semuanya tak pernah ada yang salah dan tak ada yang harus di salahkan. Semuanya ini kehendak Tuhan, yang sebenarnya kita juga tak ingin memilih jalan seperti ini. Tetapi Tuhan selalu memberikan jalan yang terbaik untuk umatnya.  Selalu ada hikmah yang Tuhan berikan di segala cobaan yang di berikan-Nya. Dulu, mungkin aku terlalu senang ketika berada di atas. Aku selalu bersyukur, namun tak pernah terpikir jika aku berada di bawah kelak. Sekarang, seketika semua berbalik 180°.  Aku yang dulu periang, sekarang menjadi sedikit murung karena beberapa hal yang membuatku terpuruk dengan keadaan. 
Perlahan aku bangkit, bangkit dari keterpurukanku selama ini. Perlahan aku ubah jalan hidupku untuk berjuang menjadi diriku yang kuat seperti dulu. Aku menyadarinya, Tuhan telah selipkan begitu banyak hikmah kepadaku ketika keterpurukan datang menghampiriku.  Tuhan tak pernah tidur, selalu mendengar do'akan.  Tuhan kirimkan orang-orang yang menyayangiku lewat sahabat & keluarga ku. Lewat mereka, aku mulai menemukan keceriaanku lagi. Lewat mereka, aku merasa tak sendiri lagi. Kehidupan ini ibarat seperti roda yang akan terus berputar. Ketika kita merasa berada di titik paling bawah, percayalah dengan perjuangan dan proses yang kita lewati suatu saat pula kita akan kembali pada titik teratas. 

Selasa, 06 Desember 2016

30DWC Jilid 3 Ke 6


"Sahabat"
Sahabat..
Kita dipertemukan tanpa kesengajaan
Namun Tuhan telah mentakdirkan kita
Ditakdirkan untuk bertemu dan saling menyayangi
Karena sahabat adalah harta kedua setelah keluarga

Sahabat..
Ketika ku jatuh, rangkul pundak ini
Ajak aku untuk bangkit kembali
Tenangkan aku ketika ku resah
Ingatkan aku, bahwa aku tak sendiri

Sahabat..
Tanpamu, aku bukan siapa-siapa
Denganmu, kita membunuh rasa sepi
Menghapus rasa sedih, menciptakan rasa bahagia
Melewati semuanya bersama, itu terasa indah

Sahabat..
Terima kasih untuk menerimaku
Menerima segala kekuranganku
Terima kasih untuk mau berbagi
Berbagi kisah hidup bersamaku

Senin, 05 Desember 2016

30DWC Jilid 3 Ke 5




Malaikat Tanpa Sayap yang Kusebut Ibu

Ibu..
Sungguh besar pengorbananmu
Sungguh besar kasih sayangmu
Pengorbanan dan kasih sayangmu sungguh tiada batas

Ibu..
Kesabaranmu sungguh besar dalam menghadapiku
Kau mengingatkanku segala hal
Kau memarahiku karena kau menyayangiku

Ibu..
Tak terasa, kini putri kecilmu sudah dewasa
Putri kecilmu yang dulu selalu kau manja dan kau cium
Kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang ingin membahagiakanmu

Ibu..
Maafkan aku atas segala kesalahanku
Kesalahanku yang pernah membuatmu menangis
Dan terimakasih untuk selalu menjadi ibu terbaik untukku
Aku menyayangimu, Bu..


Minggu, 04 Desember 2016

30DWC Jilid 3 Ke 4

Sahabatku Utami

Panggil saja dia Utami, Sahabat karibku yang ku kenal sejak aku duduk di bangku SMP. Kami di pertemukan mungkin atas izin-Nya pula. Utami, bagiku dia adalah sahabat dan keluargaku. Dia yang paling periang diantara sahabatku yang lain. Lesung pipinya selalu menjadi kebanggaannya. Kami sama-sama anak bungsu dari dua bersaudara, bedanya dia memiliki kakak laki-laki sedangkan aku memiliki kakak perempuan. Suka duka, canda dan tawa telah kami lewati bersama. Namun suatu hari, aku merasa aneh ketika melihatnya menangis. Utami yang aku kenal jarang sekali untuk meneteskan air matanya di depanku.  Kali ini berbeda, dia merasa lemah saat dia merasakan sakit hati setelah di khianati oleh seseorang yang dicintainya. Beberapa bulan aku melihatnya seolah bukan dirinya yang selama ini aku kenal, aku pun selalu mencoba menghiburnya dengan mengajaknya jalan-jalan. Singkat cerita, setelah beberapa bulan dilewatinya dengan penuh kesedihan akhirnya dia menemukan seseorang yang kembali membuatnya menemukan kehidupan baru. Ya, sekarang dia jauh lebih baik dan kembali ku temukan dirinya yang sesungguhnya. Utami yang ku kenal periang dan selalu bikin onar telah kembali. Selamat untuk sahabatku.   

30DWC Jilid 3 ke 3


Rindu Mamah
Mentari pagi memancarkan sinarnya begitu indah hingga membuatku tak henti mengucap syukur atas nikmat-Nya. Sejenak ku pejamkan mata, ku renungkan hal-hal yang telah ku lalui kemarin. Terlintas dalam pikiranku, sosok perempuan yang sedang tersenyum kepadaku. Iya, sosok perempuan yang terlintas dalam pikiranku adalah Mamah. Mamah yang lembut dan penuh dengan kasih sayang yang tiada henti untuk anaknya. Tak terasa, air mata pun hingga menetes ketika ku buka mataku kembali. Jelas aku sangat merindukannya, sudah tiga bulan terakhir ini aku belum pulang untuk menemuinya. Aku masih bertahan dan berjuang dengan kewajibanku menyelesaikan tugas akhir. Terlihat egois, namun keegoisan itu membuatku ingin mengeluh dan menangis ketika aku harus berjuang sendiri. Sejenak lamunanku terhenti ketika aku ingat aku harus mengerjakan tugas akhir.  
Singkat cerita, ketika aku sedang mengerjakan tugas akhirku. Hanphoneku berbunyi dan kulihat panggilan itu dari Mamah, sungguh bahagianya aku ketika itu adalah mamah yang menelephoneku. Mamah yang selalu cerewet mengengingatkanku, karena dia tidak mau anaknya sakit. Mamah yang selalu menasehati berbagai hal, karena dia sangat menyayangi anaknya. Tak terasa obrolan kami pun sudah 30 menit lamanya, mamah pun menutup teleponnya. Setelah  itu, aku pun tersenyum dan kembali mengerjakan tugasku. Terimakasih Mah, selalu menjadi malaikat tanpa sayap untuku dan menjadi penyemangatku di setiap harinya. Aku menyayangimu, Mamah..

Jumat, 02 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 2

Ketika Ku Ingat Masa Kecilku
Pagiku yang indah, kala Sang Surya menyinarkan cahayanya untuk menerangi bumi ini. Aku pun segera beranjak dari tempat tidurku untuk segera memulai aktifitasku. Waktu terus berjalan, membuatku seolah tak sadar akan semua yang telah kulalui sampai saat ini. Sejenak aku terdiam & termenung ketika aku melihat sekumpulan anak kecil yang sedang bermain. Saat itu pula, aku kembali mengingat memori masa kecilku. Aku merasa bahagia bisa menikmati masa kecilku dengan teman-teman sebaya, sampai aku selalu lupa waktu saat bermain bersama mereka. Aku pun teringat, ketika itu aku sering bermain kelereng, gobag sodor, gatrik dan permainan-permainan lainnya. Itu adalah moment yang tidak akan pernah aku lupakan.
Seketika temanku langsung menepak bahuku, karena melihatku terdiam dengan memandangi anak-anak kecil yang sedang bermain. Saat itu pun aku tersadar, kini aku sudah beranjak dewasa bukan lagi seperti anak kecil yang hanya bisa tersenyum bahagia tanpa ada beban yang harus dipikulnya. Sekarang banyak hal yang harus aku kerjakan dan aku pertanggungjawabkan untuk kedepannya nanti. 

Kamis, 01 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 1

Aku & Sahabatku
Sore itu, matahari masih menampilkan senjanya dan terlihat indah bagiku. Saat itu aku putuskan untuk pergi menemui sahabatku yang sedang berada di kosannya, daerahnya memang jauh dari daerahku saat ini. Lebih tepatnya, dia berada di daerah Kiaracondong Gang Parabon III. Seperti biasa, aku yang masih Mahasiswa hanya bisa mengandalkan angkot untuk pergi kemana-mana. Aku pun beranjak dari kesanku untuk segera mencari angkot Ledeng-Margahayu dengan warna mobilnya biru dan kuning. Singkatnya, mobil itu aku hentikan dan aku pun langsung naik dan menempuh perjalanan cukup jauh sekitar 1 atau sampai 1,5 jam. Singkat cerita, sampailah aku di persimpangan jalan yang terkenal dengan stopan lampu merah paling lama. Setelah lampu hijau menyala, aku mulai bergegas lari karena takut aku tercegat lampu merah berikutnya. Aku pun tiba di kosan teman yang ku maksud, sejenak ku istirahatkan badanku setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga.
Panggil saja dia Utami, sahabat yang sudah ku anggap sebagai keluargaku. Tak ayal jika orang lain sering menganggap kami mirip karena tinggi badan kami hampir sama hanya berbeda dari postur berat badan yang berbeda. Setelah energiku sudah kembali normal, aku mengajaknya untuk membeli cemilan dan kami putuskan untuk pergi keluar untuk membelinya. Cemilan yang kami beli namanya donat kentang, harganya tak seberapa tapi cemilan ini sangat enak saat kami memakannya di kosan hingga akhirnya aku pun ketagihan untuk membelinya lagi. Keesokan harinya ketika aku hendak akan pulang kembali ke beradabanku, tak lupa aku kembali membeli donat kentang itu untuk aku bawa dan di makan di kosan. Hari-hari berikutnya ketika aku kembali kesana, aku dan sahabatku membeli donat kentang lagi dan kami menikmati cemilan itu.