Senin, 12 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 12

“Tidak ada yang Tidak Mungkin”


Masih suasan libur panjang, keramaian diaman-mana hingga kemacetan pun tidak terelakan terjadi dimana-mana. Ku pikirkan sejenak dan tak lama aku pun beranjak dari tempat tidurku untuk menemui tetangga kamarku. Saat itu hujan turun cukup deras hingga membuat perutku tak henti  berkeroncong, mungkin itu salah satu efek kedinginan oleh cuaca hujan. Ku putuskan bersama temanku untuk membeli nasi dan lauk pauknya. Terlihat tidak mewah, namun rasanya patut di coba. Kami beli makanan khas Sunda. Ada ayam goreng plus nasi dan ada sambal plus lalab, dan itulah sajian yang sempurna dan membuatku selalu merindukan kampung halaman. Beberapa menit berlalu setelah kami selesai makan, kami segera bergegas menuju kamar utnuk bercerita. Usut punya usut, temanku itu tidak menyukai sambal sama sekali. Dia seolah ilfeel dengan bau aroma terasinya. Hingga pada saat itu, aku memberinya sambal merah, hampir saja tempat sambal itu jatuh karena sikap temanku yang ingin membuang sambal tersebut. Dari situlah, aku membiasakannya untuk mengajaknya makan ke tempat yang ada sambal dan lalab. Setelah beberapa waktu berlalu, temanku saat itu malah mengajakku untuk makan yang ada sambalnya. Jelas saja aku lihat saat itu, temanku yang dulunya tidak suka memakan sambal dan lalab, pada hari itu pula temanku sudah menyukainya. Satu hal yang terselip dalam benakku, karena tidak selamanya sesuatu hal yang tidak kita sukai akan terus kita tidak kita menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu bisa saja terbalik dan membuat kita menyukainya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar