“Tidak ada yang Tidak Mungkin”
Masih
suasan libur panjang, keramaian diaman-mana hingga kemacetan pun tidak terelakan
terjadi dimana-mana. Ku pikirkan sejenak dan tak lama aku pun beranjak dari
tempat tidurku untuk menemui tetangga kamarku. Saat itu hujan turun cukup deras
hingga membuat perutku tak henti
berkeroncong, mungkin itu salah satu efek kedinginan oleh cuaca hujan. Ku
putuskan bersama temanku untuk membeli nasi dan lauk pauknya. Terlihat tidak
mewah, namun rasanya patut di coba. Kami beli makanan khas Sunda. Ada ayam
goreng plus nasi dan ada sambal plus lalab, dan itulah sajian yang sempurna dan
membuatku selalu merindukan kampung halaman. Beberapa menit berlalu setelah
kami selesai makan, kami segera bergegas menuju kamar utnuk bercerita. Usut punya
usut, temanku itu tidak menyukai sambal sama sekali. Dia seolah ilfeel dengan
bau aroma terasinya. Hingga pada saat itu, aku memberinya sambal merah, hampir
saja tempat sambal itu jatuh karena sikap temanku yang ingin membuang sambal
tersebut. Dari situlah, aku membiasakannya untuk mengajaknya makan ke tempat
yang ada sambal dan lalab. Setelah beberapa waktu berlalu, temanku saat itu
malah mengajakku untuk makan yang ada sambalnya. Jelas saja aku lihat saat itu,
temanku yang dulunya tidak suka memakan sambal dan lalab, pada hari itu pula
temanku sudah menyukainya. Satu hal yang terselip dalam benakku, karena tidak
selamanya sesuatu hal yang tidak kita sukai akan terus kita tidak kita
menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu bisa saja terbalik dan
membuat kita menyukainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar