Minggu, 11 Desember 2016

30DWC Jilid 3 ke 10

Ceritaku bersama Ibu

Akhir pekan tiba, sedih bercampur bahagia berkecamuk dalam hatiku. Akhir pekan ini adalah libur panjang yang di nanti-nanti oleh para pencari tanggal merah, termasuk aku. Namun sekarang bagiku, ada tanggal merah atau tidak rasanya tetap sama. Keadaanku yang sakit membuatku sedikit sulit untuk melakukan aktifitas, akhirnya Ibuku datang untuk menengokku. Senang bercampur haru, setelah beberapa bulan aku tak pulang dan tak berjumpa dengannya.

Sesampainya Ibu di kamar kostku, kami saling bercerita dari hal yang penting sampai hal yang sebetulnya tak perlu kami bahas. Mungkin karena kami terlalu rindu, hingga pembahasan pun bercampur aduk. Namun sejenak, Ibu langsung terfokus pada kondisiku saat itu. Ibu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca sambil bertanya padaku “Sebetulnya kamu kenapa bisa sampai sakit seperti ini?” Sejenak aku pun tertunduk dan tak terasa air mataku pun ikut terjatuh dan membasahi pipiku. Aku hanya bisa terdiam dan berkata “Aku tidak apa-apa, Bu. Aku hanya rindu ingin bertemu Ibu.”

Meskipun sebetulnya Ibu tahu kalau penyakit ku bukan hal yang bisa di anggap remeh. Ibu selalu menyemangati ku dan membuatku tegar untuk menghadapi ini semua. Dikupaslah buah-buahan olehnya dan berkata “Kamu itu harus jadi wanita tegar, Ibu saja sebetulnya memiliki masalah melebihi dirimu kini. Namun tidak pernah menyerah, Ibu hanya menjalani dan berusaha sebaik mungkin untuk membuat masalah itu agar tidak membuat Ibu merasa stress.” Kata yang Ibu lontarkan membuatku terdiam dan membuatku tersadar akan satu hal, Tuhan tidak akan memberikan ujian pada umatnya di luar batas kemampuan umatnya sendiri. Apalagi memberikannya penyakit. Tuhan itu masih sayang sama kita, memberikan ujian dari mana saja dan dari hal apa aja.

Pada akhirnya,. Waktu yang terus beranjak hingga larut, kami pun putuskan untuk beristirahat. Melihat wajah Ibuku seperti sudah kelelahan karena menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke tempat kostku. Sesaat sebelum aku tidur, Ibu masih saja menyemangati ku dan mengatakan kata-kata yang membuat perasaan ku kembali terenyuh, “Ni, Kamu tak sendiri. Kamu punya Tuhan, kamu punya Mamah, Apa, keluarga dan Sahabat kamu yang selalu mendukung mu. Tetap semangat!”. Saat pula ku tahan air mataku dan langsung ku pejamkan mata ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar