Ceritaku bersama Ibu
Akhir pekan tiba, sedih bercampur
bahagia berkecamuk dalam hatiku. Akhir pekan ini adalah libur panjang yang di
nanti-nanti oleh para pencari tanggal merah, termasuk aku. Namun sekarang
bagiku, ada tanggal merah atau tidak rasanya tetap sama. Keadaanku yang sakit
membuatku sedikit sulit untuk melakukan aktifitas, akhirnya Ibuku datang untuk
menengokku. Senang bercampur haru, setelah beberapa bulan aku tak pulang dan
tak berjumpa dengannya.
Sesampainya Ibu di kamar
kostku, kami saling bercerita dari hal yang penting sampai hal yang sebetulnya
tak perlu kami bahas. Mungkin karena kami terlalu rindu, hingga pembahasan pun
bercampur aduk. Namun sejenak, Ibu langsung terfokus pada kondisiku saat itu.
Ibu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca sambil bertanya padaku “Sebetulnya
kamu kenapa bisa sampai sakit seperti ini?” Sejenak aku pun tertunduk dan tak
terasa air mataku pun ikut terjatuh dan membasahi pipiku. Aku hanya bisa
terdiam dan berkata “Aku tidak apa-apa, Bu. Aku hanya rindu ingin bertemu Ibu.”
Meskipun sebetulnya Ibu
tahu kalau penyakit ku bukan hal yang bisa di anggap remeh. Ibu selalu menyemangati
ku dan membuatku tegar untuk menghadapi ini semua. Dikupaslah buah-buahan
olehnya dan berkata “Kamu itu harus jadi wanita tegar, Ibu saja sebetulnya
memiliki masalah melebihi dirimu kini. Namun tidak pernah menyerah, Ibu hanya
menjalani dan berusaha sebaik mungkin untuk membuat masalah itu agar tidak
membuat Ibu merasa stress.” Kata yang Ibu lontarkan membuatku terdiam dan membuatku
tersadar akan satu hal, Tuhan tidak akan memberikan ujian pada umatnya di luar
batas kemampuan umatnya sendiri. Apalagi memberikannya penyakit. Tuhan itu
masih sayang sama kita, memberikan ujian dari mana saja dan dari hal apa aja.
Pada akhirnya,. Waktu yang
terus beranjak hingga larut, kami pun putuskan untuk beristirahat. Melihat wajah
Ibuku seperti sudah kelelahan karena menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk
sampai ke tempat kostku. Sesaat sebelum aku tidur, Ibu masih saja menyemangati ku
dan mengatakan kata-kata yang membuat perasaan ku kembali terenyuh, “Ni, Kamu
tak sendiri. Kamu punya Tuhan, kamu punya Mamah, Apa, keluarga dan Sahabat kamu
yang selalu mendukung mu. Tetap semangat!”. Saat pula ku tahan air mataku dan
langsung ku pejamkan mata ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar